Ekonomi Sulut Tumbuh 5,66 Persen, Gubernur YSK Ajak Semua Pihak Jaga Momentum
MANADO – Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Yulius Selvanus Komaling (YSK) menyampaikan, capaian pertumbuhan ekonomi Sulut tahun 2025 patut disyukuri, namun tidak boleh membuat seluruh pihak cepat berpuas diri.
“Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara sudah berada di jalur yang baik. Tugas kita bersama adalah mengawal dan menjaganya agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat,” ujar Gubernur YSK, Jumat (6/2/2025).
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, Forkopimda, dunia usaha, dan masyarakat dalam menjaga stabilitas ekonomi serta memastikan pembangunan berjalan berkelanjutan.
“Kolaborasi semua pihak menjadi kunci agar pertumbuhan ini tetap terjaga dan berkesinambungan,” katanya.
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, perekonomian Sulut tahun 2025 yang diukur melalui Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp204,75 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp113,66 triliun.
Secara kumulatif, ekonomi Sulawesi Utara tumbuh sebesar 5,66 persen (c-to-c) dibandingkan tahun 2024.
Dari sisi produksi, sektor Industri Pengolahan menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan capaian 9,97 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, ekspor luar negeri mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 28,42 persen, menunjukkan peningkatan daya saing produk Sulut di pasar global.
Pada Triwulan IV tahun 2025, ekonomi Sulut tumbuh 5,95 persen secara tahunan (y-on-y). Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 20,67 persen, seiring dengan meningkatnya aktivitas pariwisata dan usaha kuliner.
Secara kuartalan (q-to-q), ekonomi Sulut tumbuh 7,02 persen, didorong oleh belanja pemerintah yang meningkat sebesar 21,75 persen serta pertumbuhan sektor jasa lainnya sebesar 20,61 persen.
Dari sisi ketenagakerjaan, jumlah angkatan kerja pada November 2025 tercatat sebanyak 1,43 juta orang. Jumlah penduduk yang bekerja mencapai 1,35 juta orang, dengan sektor pengadaan listrik, air, dan gas menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar.
Proporsi pekerja formal juga mengalami peningkatan menjadi 46,93 persen. Sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 5,78 persen, atau menurun 0,21 persen poin dibandingkan periode sebelumnya.
Pada aspek kesejahteraan sosial, persentase penduduk miskin di Sulawesi Utara pada September 2025 tercatat sebesar 6,62 persen, turun 0,09 persen poin dibandingkan Maret 2025. Di wilayah perkotaan, angka kemiskinan turun menjadi 3,95 persen, sementara di wilayah perdesaan masih berada di angka 10,11 persen.
Tingkat ketimpangan pengeluaran yang diukur melalui gini ratio juga mengalami penurunan menjadi 0,341. Berdasarkan standar Bank Dunia, kelompok 40 persen penduduk terbawah kini menikmati sekitar 19,90 persen dari total pengeluaran.
“Capaian ini harus menjadi motivasi untuk terus memperkuat kebijakan pembangunan yang inklusif,” tambah Gubernur. (Midi)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.