Ngopi Bareng Gen Z, Wali Kota Kotamobagu Siap Legalkan “Katege Moon” Jadi Ikon Baru Kota
KOTAMOBAGU – Suasana malam di pusat Kota Kotamobagu, terasa berbeda dari biasanya. Di tengah semerbak aroma kopi dari lapak-lapak jalanan, Wali Kota Kotamobagu turun langsung menyapa dan berbaur dengan generasi muda, khususnya para pelaku usaha kopi jalanan atau street coffee yang kini tengah naik daun, Sabtu (19/4/2026).
Kehadiran orang nomor satu di Kotamobagu itu bukan sekadar kunjungan formal, melainkan dialog santai namun penuh makna. Ia mendengarkan langsung aspirasi para pelaku usaha yang menjadikan trotoar dan sudut kota sebagai ruang kreatif sekaligus sumber penghidupan.
Fenomena street coffee dinilai menjadi indikator geliat ekonomi kreatif yang terus tumbuh di Kotamobagu. Salah satu konsep yang mencuri perhatian adalah “Katege Moon” atau yang akrab disebut “Boki Nongki”.
Nama tersebut merupakan akulturasi kreatif dari Lapangan Boki Hotinimbang, yang kini disulap menjadi ruang nongkrong anak muda. Diva, perwakilan asosiasi pedagang Katege Moon, mengungkapkan filosofi unik di balik penamaan tersebut.
”Kami tidak hanya sekedar berjualan kopi, tapi menawarkan ruang budaya baru bagi anak muda. Kami berharap Bapak Wali Kota dapat meresmikan gerakan ini agar kami memiliki legalitas hukum yang jelas dalam menjalankan usaha,” ujar Diva di hadapan Wali Kota.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat kemandirian ekonomi generasi muda. Menurutnya, street coffee bukan sekadar tren, melainkan potensi besar yang bisa dikembangkan menjadi ikon wisata kuliner kota.
Dalam arahannya, Wali Kota menekankan beberapa poin penting. Di antaranya, para pelaku usaha diminta menyusun draf konsep penataan yang komprehensif sebagai bahan kajian pemerintah. Selain itu, aspek legalitas akan dipertimbangkan agar para pedagang memiliki kepastian hukum dan tidak terkendala penertiban di masa mendatang.
Namun demikian, ia juga memberikan catatan tegas terkait kebersihan dan ketertiban. “Sampah harus menjadi perhatian serius. Pengunjung hanya akan nyaman jika lingkungan bersih. Keamanan dan ketertiban adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Langkah Wali Kota ini mencerminkan gaya kepemimpinan yang persuasif dan adaptif. Dengan turun langsung ke lapangan, pemerintah berupaya menjembatani kebutuhan regulasi dengan realitas ekonomi kreatif yang berkembang di tengah masyarakat.
Jika “Katege Moon” berhasil ditata dan dilegalisasi dengan baik, bukan tidak mungkin Kotamobagu akan menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengelola sektor informal berbasis komunitas pemuda. Lebih dari sekadar segelas kopi, ini adalah tentang bagaimana sebuah kota memberi ruang bagi warganya untuk tumbuh, berkarya, dan tetap selaras dengan estetika serta ketertiban kota. (Lamk)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.