Sembilan Keluarga Korban Bicara: Lucky Sugeha Tetap Hadir di Tengah Duka Tragedi Upai
KOTAMOBAGU — Luka akibat tragedi Drag Race di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, hingga kini belum sepenuhnya mengering.
Minggu, 9 Agustus 2026, menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan oleh keluarga korban. Sebanyak sembilan orang meninggal dunia dalam peristiwa tragis yang mengguncang Kota Kotamobagu dan Bolaang Mongondow Raya.
Di tengah duka mendalam serta perdebatan publik mengenai tanggung jawab pascatragedi, sejumlah keluarga korban memilih menyampaikan apa yang mereka alami secara langsung.
Nama Ketua Panitia Drag Race, Lucky Sugeha, turut disebut. Namun bukan dalam konteks perdebatan, melainkan terkait kehadirannya di tengah keluarga korban sejak hari pertama tragedi.
Bagi keluarga yang ditemui wartawan, kehadiran tersebut menjadi sesuatu yang mereka rasakan sendiri selama melewati masa-masa sulit kehilangan orang tercinta.
Mereka mengaku tidak ingin memelihara kemarahan maupun dendam. Kehilangan memang meninggalkan luka yang dalam, tetapi keluarga memilih mengikhlaskan kepergian orang-orang yang mereka cintai sebagai bagian dari takdir.
Di tengah kondisi tersebut, perhatian dan komunikasi yang diberikan Lucky bersama panitia dinilai memiliki arti tersendiri bagi keluarga korban.
Keluarga almarhum Ali Ponamon di Kelurahan Upai menjadi salah satu yang menyampaikan pengalaman tersebut.
Aan Kurniawan Ponamon, anak almarhum Ali Ponamon, mengatakan Lucky datang menemui keluarga sejak hari pertama tragedi.
Menurut Aan, Lucky tidak hanya menyampaikan belasungkawa, tetapi juga memberikan santunan dan membantu berbagai kebutuhan keluarga selama masa berduka.
“Kalau Pak Lucky datang sejak hari pertama kejadian. Dan hingga saat ini masih bersama kami keluarga korban,” ujar Aan saat ditemui, Kamis (27/8/2026).
Bantuan tersebut, kata Aan, juga mencakup kebutuhan selama rangkaian malam penghiburan atau malam Takziah, mulai malam ketiga.
Bahkan, proses pembuatan makam almarhum Ali Ponamon disebut mendapat dukungan dari Lucky.
“Kubur telah selesai dibangun bersamaan peringatan 14 malam,” kata Aan.
Bagi keluarga, perhatian tersebut tentu tidak menghapus kesedihan. Namun, kehadiran seseorang ketika mereka berada di titik terberat kehidupan menjadi sesuatu yang sangat dihargai.
Hal serupa disampaikan Nurdin Jojang, ayah almarhum Ali Jojang di Desa Bilalang IV.
Nurdin mengatakan dirinya tidak lagi menyimpan kemarahan maupun dendam kepada Lucky Sugeha.
Ia menilai sikap Lucky yang tetap datang dan berkomunikasi dengan keluarga menunjukkan adanya perhatian terhadap kondisi mereka.
“Hingga saat ini Pak Lucky masih dengan kami keluarga. Sering datang, mengunjungi kami keluarga. Saat ini sedang pembuatan kubur,” ujar Nurdin sambil menyeka air mata.
Kehilangan seorang anak, kata Nurdin, merupakan luka yang tidak mudah disembuhkan. Namun, ia dan keluarga memilih mengikhlaskan kepergian Ali.
Mereka juga tidak ingin menjalani kehidupan dengan terus memelihara kemarahan.
Keluarga almarhum Biyo Mokoagow juga menyampaikan pengalaman serupa.
Risna Mokodongan, ibu almarhum Biyo, mengatakan Lucky bersama panitia hadir sejak hari pertama tragedi.
Saat ditemui di kediamannya di Desa Bilalang III, Risna didampingi suaminya, Dede Suprijatna.
“Yang pasti sejak hari pertama Pak Ketua Panitia ada dengan kami keluarga,” kata Risna.
Bagi Risna, kehilangan seorang anak tetap meninggalkan kesedihan yang sulit digambarkan. Namun, ia mengaku bersyukur karena selama menjalani masa berduka, keluarganya tidak merasa sendirian.
Pandangan serupa datang dari Ahmad Pusung atau yang akrab disapa Papa Aldo, suami almarhumah Lisma Mokoginta, salah satu korban tragedi Drag Race.
Kepada wartawan di Desa Bilalang III, Ahmad mengatakan Lucky langsung mendatangi keluarga sejak malam pertama.
Menurut Ahmad, masih terdapat kebutuhan keluarga, termasuk pembangunan makam serta persiapan peringatan 40 dan 100 hari.
Meski demikian, ia menilai kontribusi yang telah diberikan Lucky sejauh ini sudah sangat maksimal.
“Kontribusi Ketua Panitia Lucky Sugeha sangat maksimal. Tanggung jawabnya sangat besar,” kata Ahmad.
Komunikasi antara keluarga dan Lucky, lanjutnya, juga masih berjalan hingga saat ini.
Ia menyebut Lucky memberikan santunan dan membantu kebutuhan keluarga selama rangkaian malam Takziah. Mulai malam pertama, malam ketiga hingga malam ketujuh, perhatian tersebut terus dirasakan keluarga.
Hal serupa disampaikan keluarga almarhumah Rugaena Manangin.
Suaminya, Son Mokoginta, menyampaikan rasa syukur atas perhatian yang diberikan Lucky kepada keluarga.
Menurut Son, Lucky dinilai tidak melepaskan tanggung jawab setelah tragedi terjadi.
Keluarga memahami bahwa apapun bentuk bantuan tidak akan pernah sebanding dengan kehilangan nyawa orang yang mereka cintai.
Namun bagi mereka, rasa tanggung jawab dan perhatian yang terus diberikan tetap memiliki nilai kemanusiaan.
Pandangan tersebut juga disampaikan Kepala Dusun Umarudin Golongom yang menjadi penghubung keluarga.
Ia menilai Lucky menunjukkan sikap bertanggung jawab dan terbuka dalam berkomunikasi dengan keluarga korban.
“Memang apa yang dia berikan tidak sebanding dengan nyawa. Tetapi rasa tanggung jawab dan perhatian terhadap kami keluarga korban sangat besar,” ujar Umarudin.
Keluarga korban Nilawaty Mokodongan di Desa Pontodon juga menyampaikan pengalaman serupa.
Anak almarhumah, Nurhaty Pusung, menjadi bagian dari keluarga yang merasakan langsung perhatian setelah tragedi.
Sementara itu, keluarga almarhum Muksin Dondo di Desa Pontodon Timur menyebut Lucky aktif berkomunikasi sejak hari pertama.
Pihak keluarga bahkan membantah anggapan yang beredar bahwa panitia tidak bertanggung jawab terhadap keluarga korban.
“Yang pasti Ketua Panitia komunikatif dengan kami keluarga,” kata Rusli Mokodompit, pihak keluarga, yang didampingi Kusnan Mokoginta.
Bagi keluarga, komunikasi menjadi bagian penting dalam menghadapi masa duka.
Sebab, ketika keluarga kehilangan orang yang mereka cintai, kehadiran dan komunikasi dapat membuat mereka merasa tidak ditinggalkan.
Pernyataan senada sebelumnya juga disampaikan Murdani Pobela, Rusdianto Mokoginta dan Manuel Mokoginta yang merupakan keluarga korban tragedi Drag Race.
Mereka mengatakan kehadiran Lucky di tengah keluarga sejak awal tragedi memberikan arti tersendiri.
Menurut mereka, Lucky datang, menyampaikan permohonan maaf, memberikan santunan serta membantu berbagai kebutuhan keluarga korban.
“Kami keluarga bersyukur tanggung jawab yang ditunjukkan dari Pak Lucky Sugeha hingga hari ini,” kata Murdani.
Murdani menilai Lucky menunjukkan sikap yang dianggapnya gentle karena tetap berada di tengah keluarga setelah tragedi.
Komunikasi terus dilakukan. Kunjungan ke rumah keluarga korban juga masih berlangsung.
Bagi keluarga korban, tidak ada bantuan yang mampu menggantikan nyawa orang yang telah pergi.
Tidak ada pula santunan yang dapat mengembalikan seorang anak kepada orang tuanya, seorang istri kepada suaminya, atau seorang suami kepada istrinya.
Namun, keluarga memilih menjalani kehidupan dengan cara mereka sendiri.
Mereka memilih mengikhlaskan. Mereka memilih tidak menambah luka dengan kemarahan.
Di tengah proses hukum dan perdebatan publik mengenai tragedi tersebut, keluarga juga memiliki pengalaman yang mereka rasakan secara langsung.
Bagi mereka, persoalan hukum memiliki mekanisme tersendiri. Sementara rasa kehilangan adalah sesuatu yang harus mereka jalani setiap hari.
Yang tersisa adalah keluarga yang harus belajar kembali menjalani kehidupan tanpa orang-orang yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidup mereka.
Karena itu, bagi keluarga korban, kehadiran seseorang di saat paling sulit bukan sekadar tentang seberapa besar bantuan yang diberikan.
Lebih dari itu, tentang siapa yang datang ketika mereka menangis.
Siapa yang masih mengangkat telepon ketika mereka membutuhkan.
Dan siapa yang tetap berdiri bersama mereka ketika sorotan publik mulai bergeser.
Dalam kesedihan itu, sembilan keluarga korban mengatakan mereka masih melihat Lucky Sugeha hadir dan berkomunikasi dengan mereka.
Bagi mereka, kehadiran tersebut tidak menghapus tragedi dan tidak pula mengembalikan orang-orang yang telah pergi.
Tetapi setidaknya, di tengah kehilangan yang begitu besar, mereka merasa tidak sepenuhnya berjalan sendirian. (Lamk)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.