Konferensi PWI Sulut Dipersoalkan, Tiga Kandidat Layangkan Protes ke Pusat
MANADO – Pelaksanaan Konferensi Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Utara yang berlangsung di Manado pada Selasa, 31 Maret 2026, menuai polemik. Sejumlah pihak menilai proses tersebut sarat kejanggalan dan diduga tidak sesuai dengan aturan organisasi yang berlaku.
Berdasarkan surat protes dan keberatan yang diterima redaksi, tiga kandidat dalam kontestasi itu menyoroti berbagai dugaan pelanggaran, mulai dari tahapan administratif hingga proses pengambilan keputusan di forum konferensi. Kegiatan yang turut dihadiri Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, Zulkifli Gani Ottoh, disebut-sebut melenceng dari Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta Peraturan Organisasi (PO) PWI.
Dua calon Ketua PWI Sulut, Merson Simbolon dan Jhon Paransi, bersama calon Ketua Dewan Kehormatan (DK) Ramon Wowor, secara resmi mengajukan keberatan kepada PWI Pusat. Mereka menilai penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT) tidak dilakukan secara transparan dan justru didahului oleh penetapan kandidat.
“Penetapan calon dilakukan sebelum DPT disahkan. Ini jelas menyalahi prosedur dan mencederai prinsip demokrasi dalam organisasi,” tulis Merson dan Jhon dalam surat keberatan mereka.
Selain itu, mereka juga menyinggung dugaan intervensi dalam penyusunan DPT. Nama sejumlah anggota yang telah kembali pasca Kongres Persatuan disebut dicoret, sementara pihak lain yang tergabung dalam kelompok berbeda justru dimasukkan.
“Terjadi upaya memasukkan pihak-pihak tertentu ke dalam DPT, sementara anggota sah justru dikeluarkan. Ini tidak bisa dibenarkan,” ujar salah satu poin dalam surat tersebut.
Aspek netralitas pimpinan sidang juga tak luput dari sorotan. Zulkifli Gani Ottoh dinilai mengambil sejumlah keputusan yang dianggap tidak sesuai aturan, termasuk dalam penilaian keabsahan surat suara.
“Bagaimana mungkin suara dengan nama yang tidak terdaftar dianggap sah, sementara suara lain yang jelas justru dibatalkan? Ini menimbulkan pertanyaan besar soal objektivitas,” tulis Ramon Wowor.
Kontroversi juga terjadi dalam pemilihan Ketua Dewan Kehormatan. Meski memperoleh suara terbanyak, Ramon Wowor disebut tidak ditetapkan sebagai pemenang. Keputusan tersebut dinilai tidak mencerminkan hasil voting yang sebenarnya.
“Kami melihat keputusan diambil secara tidak profesional dan jauh dari mekanisme organisasi yang diatur dalam AD/ART,” tambahnya.
Ketiga kandidat tersebut sepakat meminta PWI Pusat untuk membatalkan hasil konferensi dan menjadwalkan ulang pelaksanaan konferensi sesuai dengan ketentuan organisasi. (Knet)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.