Kehilangan Istri di Tragedi Drag Race, Rusdianto Pilih Ikhlas dan Terus Menguatkan Anak

KOTAMOBAGU — Duka mendalam masih menyelimuti keluarga korban tragedi Drag Race di Kelurahan Upai. Tangis dan kesedihan belum sepenuhnya reda, terutama bagi keluarga almarhumah Harianti Mokoginta, warga Desa Bilalang 3 Utara, Kecamatan Bilalang, Kabupaten Bolaang Mongondow.

Namun, di tengah kehilangan yang begitu berat, suami almarhumah, Rusdianto Mokoginta (45), memilih menguatkan hati dan menerima kepergian sang istri sebagai bagian dari takdir Allah SWT.

Bagi Rusdianto, kehilangan Harianti merupakan luka yang tidak mudah disembuhkan. Perempuan yang selama ini menjadi pendamping hidupnya kini telah pergi untuk selamanya akibat tragedi memilukan dalam ajang Drag Race di Kelurahan Upai.

Meski hati masih diliputi kesedihan, Rusdianto berusaha ikhlas dan menyerahkan seluruhnya kepada kehendak Allah SWT.

Keikhlasan itu menjadi bentuk cinta terakhirnya kepada sang istri. Ia menyadari, manusia hanya mampu merencanakan dan menjalani kehidupan, sementara ajal merupakan ketetapan Allah SWT yang tidak dapat dihindari.

“Kami sudah ikhlas menerima. Sebab, apa yang terjadi semua atas kehendak Allah SWT,” ujar Rusdianto, didampingi Manuel Mokoginta saat ditemui di rumahnya, Selasa (18/8/2026).

Di tengah pembicaraan tentang kehilangan, Manuel Mokoginta juga masih menghadapi cobaan berat. Istrinya, Rina Longkun, hingga kini masih menjalani perawatan di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado.

Kendati demikian, kondisi Rina mulai menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Bahkan, ia sudah dapat berkomunikasi dengan keluarga melalui sambungan telepon.

“Saat ini kondisi istri saya sudah mulai membaik, bahkan tadi pagi sudah telepon,” kata Manuel.

Kabar tersebut menjadi sedikit penguat bagi keluarga di tengah rentetan cobaan yang datang hampir bersamaan.

Rusdianto dan Manuel juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang sejak tragedi terjadi terus memberikan perhatian dan dukungan kepada keluarga korban.

Di antaranya Ketua Panitia Drag Race Lucky Sugeha, Wali Kota Kotamobagu Weny Gaib, Bupati Bolaang Mongondow Yusra Alhabsyi, hingga Mas Bara, putra Gubernur Sulawesi Utara.

Menurut mereka, perhatian dan bantuan tersebut sangat berarti bagi keluarga yang sedang berusaha bangkit dari kehilangan.

Khusus kepada Ketua Panitia Lucky Sugeha, keduanya menilai perhatian yang diberikan selama ini sudah sangat maksimal. Mulai dari membantu kebutuhan biaya rumah sakit, kebutuhan anak-anak selama pelaksanaan doa malam ketiga hingga malam ketujuh, hingga rencana pembangunan makam.

“Perhatian yang diberikan sangat membantu kami dalam menghadapi kondisi seperti ini,” ungkapnya.

Di tengah suasana duka, keluarga juga berharap kondisi tetap tenang. Mereka meminta agar tidak ada pihak yang memprovokasi maupun memperkeruh keadaan.

Bagi keluarga, sikap yang kini dipilih adalah menerima dan mengikhlaskan apa yang telah terjadi.

“Kami sudah menerima dan ikhlas,” menjadi prinsip yang terus mereka pegang dalam menjalani hari-hari setelah tragedi tersebut.

Di rumah yang bahkan belum sepenuhnya selesai dibangun itu, kehidupan Rusdianto perlahan harus kembali berjalan.

Anak-anaknya, Kelvin dan Mondy, tetap harus bersekolah. Sebagai seorang ayah, Rusdianto menyadari bahwa masih ada tanggung jawab besar yang harus dijalankan, meski kini tanpa kehadiran sang istri di sisinya.

Sementara itu, kenangan tentang Harianti akan tetap tinggal di rumah tersebut di antara dinding yang belum rampung, barang-barang yang masih tersusun, serta ruang-ruang yang kini terasa jauh lebih sunyi.

Kehilangan memang meninggalkan luka. Namun, keluarga memilih untuk berdamai dengan kenyataan.

Bukan karena kehilangan itu tidak menyakitkan, melainkan karena mereka percaya bahwa keikhlasan adalah jalan untuk tetap melangkah ketika orang yang dicintai tidak lagi dapat berjalan bersama. (Lamk)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.