Gubernur Sulut Hadirkan 2,4 Ton Cabai, Warga Bisa Beli Maksimal Rp57 Ribu Per Kg
SULUT – Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling (YSK) mengambil langkah konkret menjaga ketersediaan sekaligus menekan harga cabai rawit di tengah tingginya kebutuhan masyarakat terhadap komoditas tersebut.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara bersama Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mendatangkan sebanyak 2,4 ton cabai rawit merah segar dari Probolinggo, Jawa Timur.
Pasokan cabai varietas Patalan itu diterbangkan melalui rute Probolinggo–Bandara Juanda–Makassar–Manado. Cabai ditargetkan tiba di Manado pada Senin (14/9/2026) malam dan mulai didistribusikan kepada masyarakat pada Selasa (15/9/2026).
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya pemerintah menjaga pasokan cabai di pasar sekaligus mencegah kenaikan harga yang terlalu tinggi.
Yang menjadi perhatian, harga cabai di tingkat konsumen ditetapkan maksimal Rp57.000 per kilogram.
Harga tersebut telah memperhitungkan margin distributor dan pengecer. Dengan demikian, harga di tingkat konsumen diharapkan tetap berada dalam batas yang telah ditentukan.
“Pasokan ini kita datangkan untuk menjaga ketersediaan cabai sekaligus membantu masyarakat mendapatkan harga yang lebih terjangkau,” demikian kebijakan Pemprov Sulut dalam pengendalian harga komoditas tersebut.
Cabai dari Probolinggo itu akan disalurkan ke empat pasar utama, yakni Pasar Bersehati Manado, Pasar Pinasungkulan Manado, Pasar Airmadidi Minahasa Utara dan Pasar Amurang Minahasa Selatan.
Kehadiran pasokan tambahan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus memberi tekanan terhadap harga cabai yang sebelumnya sempat mengalami kenaikan.
Bagi masyarakat Sulawesi Utara, cabai memiliki posisi penting dalam kebutuhan sehari-hari. Rica-rica dan sambal menjadi bagian dari menu makan banyak keluarga, sehingga perubahan harga cabai cepat dirasakan masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah, terutama setelah harga cabai mengalami tekanan akibat musim kemarau yang berlangsung cukup panjang.
Gubernur YSK menilai persoalan harga kebutuhan pokok harus ditangani secara langsung melalui penguatan pasokan dan distribusi.
“Yang kita jaga bukan hanya angka inflasi. Yang paling penting adalah masyarakat tetap bisa memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang wajar,” tegasnya.
Pemprov Sulut bersama Bank Indonesia dan TPID juga terus memperkuat koordinasi untuk mengantisipasi gejolak harga komoditas pangan lainnya.
Pasokan 2,4 ton cabai dari Probolinggo menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah dalam menjaga stabilitas pangan di daerah. (Midi)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.