Dari Kebun Kakao ke Tanah Suci, Kisah Hajan Paputungan Menanam Harapan

BOLMONG — Di antara rimbunnya pohon kakao di Desa Matali Baru, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), tersimpan cerita tentang kerja keras yang perlahan berubah menjadi kebahagiaan.

Pagi itu, kebun bukan sekadar hamparan tanah bagi Hajan Paputungan. Setiap pohon kakao yang tumbuh menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Dari tanaman-tanaman itulah ia memenuhi kebutuhan keluarga, menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi, bahkan mewujudkan salah satu impian yang mungkin tidak semua petani dapat meraihnya menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci.

Hajan Paputungan di kebun kakao miliknya di Desa Matali Baru, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Jumat 18 September 2026.

Hajan kini berusia 61 tahun. Puluhan tahun hidupnya telah ia habiskan sebagai petani kakao.

Jumat, 18 September 2026, Hajan ditemui di Sanggar Tani Tunas Baru, Desa Matali Baru. Dengan wajah yang tenang, ia menceritakan perjalanan panjangnya mengelola kebun kakao hingga mampu memberikan hasil yang menurutnya sangat berarti bagi kehidupan keluarga.

Dalam kondisi kebun yang terawat, Hajan mampu menghasilkan sekitar 500 kilogram kakao dalam setiap periode sepuluh hari.
Angka tersebut bukan sekadar jumlah hasil panen.

Di balik 500 kilogram kakao itu ada tangan yang bekerja, ada banyak keringat mengalir, banyak waktu yang dicurahkan, serta ketekunan merawat tanaman dari hari ke hari.

Bagi Hajan, keberhasilan seorang petani tidak hanya diukur dari banyaknya hasil yang dibawa pulang dari kebun.

Ada kebahagiaan yang jauh lebih besar ketika hasil kebun bisa digunakan untuk membiayai pendidikan anak.

Hasil dari tanaman kakao yang selama ini dirawatnya menjadi salah satu sumber yang membantu Hajan menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Baginya, pendidikan merupakan investasi bagi masa depan keluarga.

Setiap kali memetik buah kakao, Hajan tidak hanya melihat hasil panen. Ia melihat kebutuhan pendidikan anak, kebutuhan keluarga, dan masa depan yang sedang diperjuangkan.

Kebun menjadi tempat ia bekerja, sementara keluarga menjadi alasan untuk terus bertahan.

Ada satu pengalaman yang menjadi kenangan tersendiri bagi Hajan.

Dari hasil jerih payahnya sebagai petani kakao, ia dapat mewujudkan keinginan untuk melaksanakan ibadah umrah.

Petani kakao binaan J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) bersama para pendamping dan pengunjung di kebun kakao Sanggar Tani Tunas Baru, Desa Matali Baru, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Jumat (18/9/2026). Abdul Marham Koikit – Kuasa.net.

Bagi seorang petani yang puluhan tahun menggantungkan hidup pada kebun, perjalanan ke Tanah Suci tentu bukan sekadar perjalanan biasa.

Ada rasa syukur yang menyertai setiap langkahnya.

Hasil yang dikumpulkan dari kebun sedikit demi sedikit akhirnya membawa Hajan pada pengalaman spiritual yang menjadi impiannya.

Kisah tersebut menjadi bukti bagi dirinya bahwa pekerjaan sebagai petani, ketika ditekuni dan dikelola dengan baik, dapat memberikan lebih dari sekadar penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari.

Sebagai petani kakao binaan J Resources Bolaang Mongondow (JRBM), Hajan juga menjadi bagian dari kelompok tani yang mendapatkan ruang untuk belajar dan bertukar pengalaman.

Sanggar Tani Tunas Baru menjadi tempat para petani berkumpul, berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai pengelolaan tanaman kakao.

Bagi Hajan, pengalaman puluhan tahun di kebun tetap harus disertai kemauan untuk belajar.

Sebab dunia pertanian terus berubah. Cara merawat tanaman, menjaga produktivitas dan mengelola kebun perlu terus diperhatikan.

Dari situlah pengalaman seorang petani bertemu dengan pengetahuan baru.

Hajan memahami bahwa hasil 500 kilogram per sepuluh hari bukan sesuatu yang datang begitu saja.

Ada proses panjang yang dimulai dari merawat tanaman, menjaga kebersihan kebun, memperhatikan buah, hingga memanen pada waktu yang tepat.

Usia 61 tahun tidak membuat Hajan berhenti bertani.
Kebun masih menjadi bagian dari kehidupannya.

Di antara pohon-pohon kakao, ia telah menemukan perjalanan hidup yang panjang. Dari sana kebutuhan keluarga dipenuhi. Dari sana anak-anak mendapat kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Dan dari sana pula ia dapat mengumpulkan bekal untuk berangkat ke Tanah Suci.

Kisah Hajan Paputungan menjadi cerita tentang bagaimana sebuah kebun dapat menyimpan begitu banyak harapan.

Bukan hanya tentang buah yang dipanen, tetapi juga tentang mimpi-mimpi yang perlahan diwujudkan.

500 kilogram setiap sepuluh hari mungkin terlihat sebagai angka. Namun bagi Hajan, setiap kilogram kakao memiliki cerita tentang keringat di kebun, tentang pendidikan anak, tentang keluarga, dan tentang sebuah perjalanan menuju Tanah Suci.

Kini, di usia 61 tahun, Hajan masih terus merawat pohon-pohon kakaonya.

Sebab ia tahu, selama tanaman itu terus tumbuh dan dirawat, selalu ada harapan baru yang bisa dipanen.

Dari tanah Matali Baru, Hajan tidak hanya memanen kakao. Ia memanen hasil dari kesabaran, kerja keras, dan doa yang selama bertahun-tahun ia tanam bersama keluarganya. (Lamk)

 

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.