Cegah Kekerasan Anak, Pemkot Kotamobagu Soroti Pentingnya Pola Asuh
KOTAMOBAGU — Komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu dalam mencegah kekerasan terhadap anak terus diperkuat. Salah satunya melalui Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak yang dibuka langsung Wali Kota Kotamobagu, Weny Gaib, Selasa (1/9/2026).
Kegiatan yang diprakarsai Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Kotamobagu tersebut berlangsung di Aula Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Kelurahan Gogagoman, dengan mengusung tema “Dampak Pola Asuh terhadap Psikologi dan Karakter Anak.”
Wali Kota Weny Gaib hadir bersama Ketua TP PKK Kotamobagu, Rindah Gaib Mokoginta. Kegiatan ini turut dihadiri Sekretaris Daerah Kotamobagu, Sofyan Mokoginta para asisten, Lurah Gogagoman, pengurus PKK, karang taruna, serta perwakilan sekolah tingkat SD, SMP dan SMA.
Dalam kegiatan tersebut, terdapat tiga poin utama yang menjadi tujuan sosialisasi. Pertama, memperluas wawasan pengasuhan, agar orang tua memahami metode mendidik anak yang lebih modern tanpa mengandalkan kekerasan, baik secara fisik maupun verbal.
Kedua, menciptakan lingkungan yang aman, dengan menjadikan rumah sebagai tempat perlindungan utama bagi anak, minim konflik serta dipenuhi rasa saling menghargai.
Ketiga, mencegah gangguan psikologis, dengan menghindarkan anak dari tekanan mental, kecemasan maupun perilaku maladaptif yang dapat muncul akibat pola asuh yang keliru.
Dalam sambutannya, Wali Kota Weny Gaib menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, upaya membangun generasi muda yang berkualitas harus dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kota Kotamobagu, saya menyampaikan apresiasi yang tinggi disertai ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta pengurus PKK Kotamobagu yang telah melaksanakan sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap anak,” ujar Wali Kota.
Ia pun mengajak seluruh orang tua untuk menjadikan rumah sebagai tempat pertama bagi anak dalam memperoleh rasa aman, nyaman dan kasih sayang.
“Mari kita lebih banyak mendengar ketika anak bicara. Mari kita memberikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan perasaan dan persoalan yang sedang mereka hadapi. Jangan sampai anak merasa lebih nyaman menceritakan masalahnya kepada orang lain karena merasa tidak mendapatkan tempat di keluarga sendiri,” ajaknya.
Selain keluarga, Wali Kota juga menekankan pentingnya peran sekolah dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak.
Ia berharap para guru dan tenaga pendidik tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memberikan perhatian terhadap pembentukan karakter dan perkembangan psikologis peserta didik.
“Pendidikan bukan hanya tentang prestasi akademik, akan tetapi juga tentang bagaimana kita membangun karakter, menanamkan nilai moral, mengembangkan empati, dan membentuk generasi yang percaya diri serta bertanggung jawab,” ungkapnya.
Di akhir sambutannya, Weny Gaib berharap sosialisasi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan mampu menghasilkan perubahan nyata dalam pola pengasuhan dan perlindungan anak di Kota Kotamobagu.
“Saya berharap berbagai pengetahuan dan pemahaman yang diperoleh para peserta dari kegiatan ini hendaknya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta disebarluaskan kepada keluarga dan lingkungan, sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian kita bersama dalam mencegah segala bentuk kekerasan terhadap anak,” pungkasnya.
Usai menyampaikan sambutan, Wali Kota Weny Gaib kemudian secara resmi membuka kegiatan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak.
Sementara itu, Kepala DP3A Kota Kotamobagu, Sarida Mokoginta, dalam laporannya menjelaskan bahwa kegiatan tersebut memiliki tujuan strategis dalam meningkatkan pemahaman orang tua dan masyarakat terkait pola pengasuhan anak.
Menurut Sarida, pemahaman pola asuh yang tepat menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah terjadinya kekerasan sekaligus menjaga kesehatan psikologis dan pembentukan karakter anak.
“maksud dan tujuan kegiatan yakni memperluas wawasan pengasuhan, orang tua memahami metode mendidik yang modern tanpa mengandalkan kekerasan fisik atau verbal. Menciptakan lingkungan aman, rumah menjadi tempat perlindungan utama yang minim konflik dan penuh rasa saling menghargai. Mencegah gangguan psikologis, menghindari tekanan mental, kecemasan atau perilaku maladaptif pada anak akibat pola asuh yang salah,” ujar Sarida Dalam Laporannya.
Kegiatan yang diikuti 100 peserta tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, keluarga, sekolah dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang ramah anak, sekaligus memastikan setiap anak di Kota Kotamobagu dapat tumbuh dan berkembang tanpa kekerasan serta dengan dukungan penuh dari lingkungan sekitarnya. (Lamk)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.