Suami Korban Tragedi Drag Race Minta Tak Ada Provokasi: Kami Sudah Mengikhlaskan

KOTAMOBAGU — Duka masih menyelimuti rumah keluarga korban tragedi Drag Race di Kelurahan Upai. Namun, di tengah kehilangan yang begitu dalam, Murdani Pobela (36), suami almarhumah Risna Longkun, memilih jalan berbeda: menerima kepergian sang istri sebagai takdir Allah SWT.

Murdani, warga Bilalang Baru, harus kehilangan Risna dalam kecelakaan maut yang terjadi pada Minggu, 9 Agustus 2026. Meski rasa kehilangan tak mudah dilalui, ia mengaku telah berusaha mengikhlaskan kepergian istrinya.

“Saya pribadi telah melepaskan dan mengikhlaskan kepergian almarhumah dengan sepenuh hati. Mungkin ini sudah menjadi takdir beliau,” kata Murdani kepada media Kuasa.net, Senin (17/8/2026).

Bagi Murdani, kehilangan seorang istri dalam peristiwa tragis bukan sesuatu yang ringan. Namun, ia memilih menyerahkan seluruh peristiwa tersebut kepada Allah SWT.

Ia juga mengingat kembali kondisi emosionalnya sesaat setelah tragedi terjadi. Saat berada di rumah sakit, Murdani mengaku emosinya sempat memuncak. Bahkan, ia masih membawa parang yang sebelumnya digunakan saat pulang dari kebun.

“Kalau saat itu saya mau melakukan sesuatu, saya bisa saja melakukan tindakan yang berakibat fatal. Karena saat itu saya sedang dalam emosi, bahkan parang saja masih berada di pinggang,” ungkapnya.

Namun, kemarahan tersebut kini telah ia tinggalkan. Murdani tidak ingin tragedi yang telah merenggut nyawa istrinya justru melahirkan persoalan baru.

Ia pun secara tegas meminta semua pihak untuk tidak memprovokasi keluarga korban melalui media sosial.

“Saya meminta agar pihak lain tidak memprovokasi lewat media sosial. Kami keluarga sudah mengikhlaskan kejadian ini,” tegasnya.

Murdani mengaku sebelum kejadian naas tersebut, dirinya sempat merasakan adanya tanda-tanda yang menurutnya menjadi pertanda akan terjadi sesuatu.
“Sudah ada tanda-tanda. Semua sudah kami serahkan kepada Allah SWT,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta keluarga dan pihak lain tidak lagi terseret oleh berbagai narasi yang berpotensi membangkitkan emosi. Menurutnya, keluarga korban saat ini lebih membutuhkan ketenangan untuk menjalani hari-hari setelah kehilangan.

“Yang kami butuhkan sekarang adalah ketenangan. Jangan ada lagi provokasi yang membuat suasana semakin keruh,” katanya.

Di tengah suasana duka, Murdani juga menyampaikan apresiasi kepada sejumlah pihak yang terus memberikan perhatian kepada keluarga korban.

Salah satunya Ketua Panitia kegiatan, Lucky Sugeha, yang menurut Murdani terus hadir dan memberikan perhatian kepada keluarga sejak tragedi terjadi.

“Syukur moanto. Terima kasih kepada Pak Lucky selaku ketua panitia, Pak Wali Kota Kotamobagu, begitu juga Pak Bupati Bolaang Mongondow atas kunjungan kepada kami. Bahkan sampai sekarang Pak Lucky selaku ketua panitia sangat maksimal dan masih bersama-sama dengan kami keluarga,” ucapnya.

Bagi Murdani, kehadiran pemerintah dan pihak-pihak yang datang memberikan dukungan menjadi penguat tersendiri bagi keluarga yang sedang berduka.

Risna Longkun kini telah pergi. Ia meninggalkan keluarga dan orang-orang yang mencintainya.

Namun bagi Murdani, kehilangan tidak harus dibalas dengan kemarahan. Ia memilih menerima, mengikhlaskan, dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT.
“Saya pribadi sudah mengikhlaskan,” ucapnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi lahir dari seorang suami yang harus kehilangan istrinya dalam sebuah tragedi. Bagi Murdani, mengikhlaskan bukan berarti rasa sakit telah hilang, melainkan sebuah pilihan agar duka tidak berubah menjadi kemarahan dan melahirkan luka baru.

Dari rumah duka itu, Murdani menyampaikan satu pesan: jangan lagi ada provokasi. Keluarga sudah ikhlas dan memilih menerima takdir Allah SWT. (Lamk)

 

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.