Sudah Bekerja, Tak Digaji: Pekerja Irigasi BLB 5 Bongkudai Kecewa pada BWS Sulawesi I
BOLTIM – Pekerjaan pembangunan Irigasi BLB 5 di Desa Bongkudai, Kecamatan Modayag Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), yang dikerjakan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi I Manado, menuai sorotan tajam. Pasalnya, upah sejumlah pekerja harian lokal hingga kini belum juga dibayarkan sejak pertengahan Desember 2025.
Kondisi ini memicu kekecewaan para pekerja yang sebagian besar merupakan warga Desa Bongkudai. Mereka mengaku telah menyelesaikan pekerjaan, namun hak mereka sebagai buruh tak kunjung diterima.
Salah satu pekerja, Yadi, mengungkapkan bahwa hingga kini pihaknya belum menerima upah sebagaimana yang dijanjikan penanggung jawab proyek.
“Hingga saat ini kami belum terima gaji yang dijanjikan oleh penanggung jawab pekerjaan, padahal pekerjaan itu sejak pertengahan desember tahun lalu,”ujar Yadi, kepada media ini pada 23/01/2026.
Yadi mengakui bahwa upah yang dijanjikan memang tidak besar, namun sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Memang upah kami sedikit, kami bekerja hanya 5 hari, tapi itu hak kami, upah itu hasil kerja pada pertengahan desember tahun lalu,” Ucapnya.
Karena terlalu lama menunggu tanpa kejelasan, para pekerja berencana melaporkan persoalan ini ke pemerintah agar hak mereka segera diberikan.
“Kami akan laporkan masalah ini, karena sudah cukup lama menunggu hak kami sebagai pekerja, yang tak kunjung diberikan,” ungkapnya.
Sementara itu, Komang, salah satu pihak yang bertanggung jawab atas pekerjaan irigasi tersebut, mengakui bahwa upah pekerja memang belum dibayarkan. Namun ia berjanji akan segera menyelesaikan kewajiban tersebut.
“Iya belum dibayarkan, tapi akan segera kami bayar upah mereka yang sudah bekerja,” imbuhnya.
Komang mengaku jika pihaknya dan para pekerja lokal yang sudah berhenti, terjalin komunikasi yang baik meski upah mereka belum dibayarkan.
Komang juga mengklaim bahwa komunikasi antara pihak pelaksana dan para pekerja lokal masih terjalin dengan baik.
“Kami sering ketemu, hubungan kami baik, gaji mereka akan tetap kami berikan, paling lambat minggu depan akan dibayarkan,”ujarnya.
Ia menjelaskan, keterlambatan pembayaran disebabkan sistem pencairan dana yang bergantung pada progres dan volume pekerjaan.
“Pekerjaan ini jika sudah sesuai volume target pekerjaan, maka akan segera dicairkan, kami akan langsung bayar upah pekerja baik yang sudah berhenti, maupun yang masih bekerja,”jelaskan.
Diketahui sebelumnya, proyek Irigasi BLB 5 ini juga sempat menuai kritik dari pemerintah desa setempat. Saat inspeksi mendadak (sidak), ditemukan sejumlah kejanggalan, mulai dari tidak adanya galian pasangan pondasi, hingga ketiadaan papan informasi proyek yang seharusnya memuat nilai anggaran dan detail pekerjaan.
Bahkan, konsultan teknis dari pihak balai disebut enggan menyebutkan besaran anggaran yang dikucurkan untuk proyek tersebut, sehingga menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, warga berharap pemerintah dan instansi terkait segera turun tangan agar hak pekerja dapat dipenuhi dan persoalan proyek irigasi ini menjadi terang-benderang. (Lamk)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.